Bali tak Kembali
Pada suatu ketika di tahun 1981. Hati saya sedang rapuh serapuh-rapuhnya, hingga kemudian saya terdampar selama beberapa hari di dalam rumah belum jadi.
Rumah di sekitaran jalan Kemuning, Pasar Minggu. Rumah itu tanpa daya listrik. Penerangan ketika malam mengandalkan lampu tempel. Kadangkala, jelaga menempel di dinding ketika lampu digantungkan pada paku di tembok. Rumah terasa nyenyet.
Ketika itu saya baru semester 5. Tetiba saya pasrah 'berguru' pada adik kelas yang juga 'bawahan' di Pengurus Mahasiswa (PMJ) Ekonomi. Dia baru semester 3. Dia yang tinggal di rumah yang belum sepenuhnya jadi itu. Entah milik siapa.
Saya tak pernah bisa menakar ilmu agama adik kelas saya ini. Tetiba saja saya percaya. Pasrah bongkokan. Ketika saya sambat masalah saya, kok bisa jadi tenang. Adem. Bahkan sekali dua saya menumpahkan penat di hati dengan mata berkaca-kaca.
Saban subuh (sekali dua saat isya juga), kami shalat berjamaah. Tak cuma shalat, saya pun kembali dituntun cara yang benar berwudhu. Saat shalat, ia selalu menjadi imam, saya makmum.
Usai shalat, ia membaca satu dua surah Quran, Ketika ia selesai membaca, saya melanjutkan dengan membaca terjemahannya. Begitu saban subuh. Berulang-ulang. Dan saya, jujur, senang. Saya menemukan ketenangan.
Saya tak jumpa lagi selepas ia lulus dari kampus tahun 1984 akhir. Hingga kemudian berjumpa lagi sekitar tahun 1987. Ia sudah berumahtangga dengan perempuan yang dipacarinya sejak di kampus. Ia dan istrinya satu angkatan. Istrinya itu Ai Rosmini, mojang Garut.
Yang agak mengejutkan, ketika jumpa lagi di kampus karena satu urusan, ia mengabarkan sedang merintis 'karier' sebagai ustads. Hingga beberapa tahun kemudian saya dikejutkan saat ia tampil rutin di televisi mengisi acara rueguler sebulan penuh.
Gayanya tak berubah. Jenaka. Dakwah lelaki kelahiran 28 Juli 1961 itu selalu diselipi humor menyegarkan. Saya benar-benar bungah. Senang. Kendati begitu kami sudah tak lagi berinteraksi lagi. Tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi.
Beruntung, lompatan teknologi, menyambungkan kembali tali silaturahmi. Kami bisa bertukar nomor kontak. Hingga kemudian, kami diajaknya ke vila miliknya di kawasan Bogor. "Yang membangun jamaah, Pung," bisik dia dengan menyebut nama panggilan kecil saya.
Ia tak pernah jaim, kendati sudah menjadi ulama besar dan punya beberapa pesantren, dihormati para santrinya. Caranya berkelakar dengan kami -- teman-temannya di kampus dulu-- masih sama. Bisa tertawa lepas. Ia juga menyediakan tempat untuk berkaraoke.
Sesekali kami diundangnya di pesantrennya di Garut, juga di Bekasi. Ia sangat royal. Apalagi bab penganan. Itu sebabnya tubuhnya benar-benar bundar.
Bukan cuma dihormati oleh para santrinya, ia tampaknya juga disegani para koleganya. Apalagi ia juga salah satu pendiri Partai Keadilan, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (bersama teman kami lainnya almarhum Arifinto). Belakangan ia juga berada di belakang pendirian Partai Gelora.
Sekali dua, ia bahkan menghubungi saya lewat telepon, atau berkirim WA. Terakhir ia mengirim WA Januari lalu. Masuk ramadhan ini saya tidak saling berkabar.
Tetiba Senin (9/3) menjelang pukul 09.00 Sjaiful Munir bersama Yanto Sudiono sudah di depan rumah. Sementara saya baru saja tidur pukul 08.00 karena sejak subuh merampungkan pekerjaan rutin saya.
"Bali meninggal, Ustads Bali meninggal barusan," kata Munir.
"Innalillahi, ya udah gue mandi dulu," sergah saya.
"Gak usah!."
Ya begitulah. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya ngumpul saya bergegas ke kamar mandi. Cuma sempat mengelap ketek, lantas ganti baju, celana dalam, semprot parfum yang banyak. Langsung cus!
Saya ingin lekas tiba di rumah Bali (saya memanggilnya Wowo) di Harapan Baru Bekasi. Saya cuma berharap arwahnya belum pergi terlalu jauh. Dulu, saya belum mengucapkan terima kasih kepadanya.
Sugeng tindak Wo! Kamu tak perlu lagi mondok di rumah sakit selama 21 hari. Kamu telah tidur di keabadian.
Kami semua pasti menyusul karena kami semua sudah pegang tiket. Entah kapan bakal berangkat. Tapi itu pasti. Tinggal tunggu giliran. Husnul khotimah, Wo! (Krisman Purwoko)

.jpeg)
Tidak ada komentar