Azhari Mustafa Tidur Dalam Keabadian
Januari tahun ini, lima orang angkatan 1983, menyambangi Azhari Mustafa yang sedang tinggal di rumah kakaknya di Cilebut. Bercelana pendek dan berkaus oblong berwarna tosca, ia menemui teman-temannya. Wajahnya terlihat pucat.
"Badannya habis," sergah temannya. Gak tahu persis sakitnya apa. Katanya gak nafsu makan, kalaupun makan itupun dipaksa, makan bubur. Kadang muntah."
Di antara teman-temannya, muncul praduga penyakitnya, selain fisik juga terkait psikis. Tapi entahlah. Teman-temannya memilih untuk tidak mau memasuki wilayah privat Azhari, lelaki yang April lalu memasuki usia 63 tahun.
Yang pasti, ketika dua pekan lalu di akhir Mei, Angkatan 83 healing untuk melakukan body rafting ke daerah Pangandaran selama tiga hari, Azhari tak mampu untuk nimbrung. Ia memilih untuk memulihkan kesehatan di rumah.
Biasanya, jika rekan seangkatan menggelar acara, hampir pasti sahabatnya, pasangan Heru dan Esther yang sudah puluhan tahun bermukim di Amerika ikut serta. Tapi keadaan memaksanya untuk rebahan saja.
Heru dan almarhum Azhari, cerita Estheria Quenda, adalah teman dekat, baik di kampus maupun di luar kampus. "Mereka berdua sering meluangkan waktu untuk sekedar roti panggang atau jajanan lain pada malam hari, karena rumah mereka tidak terlalu jauh," katanya.
"Almarhum yang mendekatkan Heru dengan aku hingga jadi suami istri sampai saat ini," tutur Esther kemudian.
Ini hari, Senin 15 Juni pukul 11.10 kabar duka itu datang. Takdirnya sudah ditentukan. Azhari Mustafa tak bisa menolaknya. Ayah dua anak itu dimakamkan pukul 16.00 di Tanah Kusir. Ia tidur dalam keabadian. Sugeng tindak. Selamat jalan kawan. (kpo)

Tidak ada komentar